[Task] Sejarah Jurnalistik

Nama : Sarah Aisyah

Kelas  : 3SA01

NPM  : 16612834

Tugas Jurnalistik : Sejarah Jurnalistik/Jurnalisme (mencakup Asal usul munculnya Kertas dan Koran di Dunia & di Indonesia)

Asal mula kertas (dikutip dari wikipedia) http://id.wikipedia.org/wiki/Kertas

Ada dua versi sejarah asal mulanya kertas,‘Versi Mesir’ mengemukakan bahwa peradaban Mesir Kuno telah menyumbangkan ‘papirus’ sebagai media untuk menulis. Papirus telah digunakan pada peradaban Mesir Kuno masa Firaun lalu menyebar ke Timur Tengah hingga Romawi,serta menyebar ke Eropa. Kata Papirus (Papyrus) lebih dikenal sebagai paper dalam bahasa Inggris, papier dalam bahasa Belanda, bahasa Jerman, bahasa Perancis misalnya atau papel dalam bahasa Spanyol yang berarti kertas. Tercatat dalam sejarah bahwa sebenarnya bangsa Cina adalah yang pertama kali menemukan keberadaan kertas bagi dunia. Dia adalah Tsai Lun,dia menemukan kertas dari bahan bambu yang mudah didapatkan di daerah Cina pada tahun 101 Masehi, dia adalah seorang pegawai negeri pada pengadilan kerajaan yang di tahun 105 M mempersembahkan contoh kertas kepada Kaisar Ho Ti. Penemuan ini akhirnya menyebar ke Jepang dan Korea seiring menyebarnya bangsa-bangsa China ke timur dan berkembangnya peradaban di kawasan itu meskipun pada awalnya cara pembuatan kertas merupakan hal yang sangat rahasia. Penggunaan kertas meluas di seluruh Cina pada abad ke-2, dan dalam beberapa abad saja Cina sudah sanggup mengekspor kertas ke negara-negara Asia. Lama sekali bangsa Cina terus menutupi dari negara lain tentang bagaimana cara membuat kertas. Akhirnya teknik yang mereka rahasiakan tersebut jatuh pada bangsa Arab (masa Abbasiyah), ketika para pasukan Dinasti Tang kalah dalam pertempuran talas pada tahun 751 Masehi, yang di mana tawanan perang akhirnya malah mengajarkan cara pembuatan kertas kepada orang-orang Arab sehingga pada zaman Abbasiyah, bermuncullah pusat-pusat industri kertas di Bagdad maupun Samarkand dan kota-kota industri lainnya, kemudian menyebar ke Italia dan India, lalu Eropa khususnya setelah Perang Salib dan jatuhnya Grenada dari bangsa Moor ke tangan orang-orang Spanyol serta ke seluruh dunia.

Kemudian,versi lainnya yaitu versi asli dari bangsa penemu kertas ‘Tsai Lun’ yaitu China, Sebelum kertas ditemukan, orang kuno menggunakan berbagai macam bahan untuk mencatat sesuatu mulai dari kayu,batang pohon,daun, dan sebagainya. Lalu karena terinspirasi dari proses penggulungan kain sutra, orang China kuno berhasil menemukan bahan seperti kertas yang disebut ‘bo’ yang terbuat dari sutra. Namun produksi ‘bo’ sangatlah mahal karena kelangkaan bahan. Pada abad ke-2,seorang pegawai negeri pada pengadilan kerajaan yang di tahun 105 M berhasil menemukan kertas jenis baru yang terbuat dari kulit kayu,kain, batang gandum dan yang lainnya. Kertas jenis ini relatif murah, ringan,tipis, tahan lama dan lebih cocok untuk digunakan dengan kuas. Kemudian, pada awal abad ke-3, proses pembuatan kertas ini pun telah menyebar ke wilayah Korea dan juga ke Jepang. Pada masa Dinasti Tang,proses ini pun merambah ke negeri Arab dan juga mulai menyentuh bangsa Eropa pada abad ke-12. Pada abad ke-16, proses pembuatan kertas telah mencapai wilayah Amerika dan secara bertahap menyebar ke seluruh dunia.

 Asal Usul Koran 

Asal Koran yang paling pertama pun ada dua versi, yang terbit di Eropa, dan di Amerika.

Koran atau yang biasanya lebih sering dikenal sebagai “Surat Kabar” (berasal dari bahasa Belanda: Krant, dari bahasa Perancis courant). Dari catatan peneliti,Koran pertama kali muncul dari masa Romawi Kuno ( 59 SM) bentuknya masih hanya berupa lembaran dan gulungan yang ditulis tangan, kemudia dipasang di tempat umum. Namanya adalah “Acta Diurna”, yang artinya “kegiatan sehari-hari” berisi berita sosial dan politik, Acta Diurna diakui sebagai koran paling pertama di dunia. Sedangkan koran cetak pertama adalah Di Bao (Ti-pao) tahun 700an di Cina. Metode Pencetakannya menggunakan balok kayu, yang dipahat aksara cina. Kemudian di tahun 1400-an bentuk koran berikutnya masih sederhana,hanya beruba Newsletter dan buku berita (beritanyanya banyak berkaitan dengan dunia bisnis para bankir dan pedagang eropa), kemudia pada tahun 1500-an berkembang menjadi lembar berita/ newssheet. Di Venesia, Italia ada “Notizie Scritte (Pemberitahuan tertulis)”  yang juga termasuk jenis dari lembar berita tersebut, “Koran” lembaran ini biasanya dipasang di banyak tempat umum, tetapi yang ingin membacanya harus membayar 1 gazzeta. Dari sanalah mucum istilah gazzeta yang menunjuk koran.

Terbitnya koran di daerah Eropa di awali temuan mesin cetak oleh Johann Gutenberg pada abad ke-15, awalnya masih lembaran berita yang terbit tidak teratur dan hanya memuat cuma satu peristiwa, kemudian berevolusi dengan terbit teratur seperti yang dilakukan mingguan ‘Avisa Relation oder Zeitung’, sejak 1609 di Strasbourg, Jerman. Rupanya awal abad ke-17 telah menjadi abad penting lahirnya banyak koran di Eropa. Tapi, mingguan Frankfurter Journal (1615) yang dikelola Egenolph Emmel di Frankfrut, Jerman, umum dipandang sebagai koran pertama di dunia. Sampai kemudian lahir Leipziger Zeitung (1660) juga di Jerman, yang mula-mula mingguan, kemudai menjadi harian, Inilah koran harian pertama di dunia. Negara Inggris kemudia menyusul,diawali oleh The London Gazette (1665) yang masih koran berkala, Inggris lalu memperkenalkan koran harian pertamanya dengan menerbitkan “The London Daily Courant (1702)”. The Times koran Inggris-yang terbit sejak abad XVII hingga kini-pertama kali memakai sistem cetak rotasi.Penemuan telegram dan jaringan kabel internasional di pertengahan 1800-an membuat wartawan bisa lebih cepat meliputi dari berbagai kawasan dunia.

Versi kedua,Surat kabar atau Koran yang di buat pertama kali adalah oleh seorang berkebangsaan Inggris bernama Benjamin Harris pada tahun 1690 di Amerika Serikat. Surat Kabar tersebut di beri nama ‘Public Occurances Both Foreign and Domestick’. Namun surat kabar tersebut di berhentikan dan tidak boleh beredar karena tidak adanya izin terbit. Di saat itu muncul kekhawatiran bahwa mesin-mesin cetak yang digunakan akan menerbitkan berita-berita yang menggeser kekuasaan pihak kolonial dan pejabat agama. Setelah negara Amerika Serikat berdiri barulah bermunculan surat-surat kabar. Namun oleh karena Interfensi politik maka surat kabar bersifat subjektif dan tidak memuat berita secara objektif. Washington dan Jefferson yang merupakan penguasa Amerika pada saat itu menggunakan surat kabar sebagai alat untuk menjatuhkan satu dengan yang lainnya. Kondisi semacam ini membuat rakyat menginginkan amandemen yang menjamin kebenaran berita dalam surat kabar . Pada awalnya amandemen ini tidak dapat bekerja dengan efektif sampai terbitnya ‘The Herald’ oleh James Gordon Bennet. The Herald membuat isu politik di bagian depan dan sisanya berisi isu bisnis, kehidupan sosial dan sebagainya. Setelah The Herald muculah New York Tribune yang di dominasi oleh pembaca dari kalangan petani.

Pada masa Lincoln muculah New York Times yang menambah ramai pangsa pasar surat kabar tersebut. Setelah perang saudara di Amerika Serikat munculah Pulitzer dengan New York World. Pulitzer adalah penerbit pertama yang menerbitkan surat kabar mingguan. Sepeninggal Pulitzer, New York World mencapai kesuksesaannya yang terbesar dengan terkenalnya ia dengan sebutan ‘wartawannya surat kabar’. New York World saat ini memegang dua buah majalah terkenal dan laris, ‘Good Housekeeping’ dan ‘Cosmopolitan’. Dalam perkembangannya, surat kabar menjadi sebagai alat propaganda politik, lalu menjadi perusahaan perorangan yang disertai keterkenalan dan kebesaran nama penerbitnya, dan sekarang menjadi bisnis yang tidak segemerlap dulu lagi, bahkan dengan nama penerbit yang semakin tidak dikenal. Perubahan ini memberikan dampak baru. Ketika iklan mulai menggantikan sirkulasi (penjualan langsung) sebagai sumber dana utama bagi sebuah surat kabar, maka minat para penerbit jadi lebih identik dengan minat para masyarakat bisnis. Ambisi persaingan untuk mendapatkan berita paling bagus tidaklah sebesar ketika peloporan. Walaupun begitu, perang sirkulasi masih terjadi pada tahun 1920-an, tetapi tujuan jangka panjang mereka adalah untuk mencapai perkembangan penghasilan dari sektor iklan. Sebagai badan usaha, yang semakin banyak ditangani oleh para pengusaha, maka surat kabar semakin kehilangan pamornya seperti yang dimilikinya pada abad ke-19. Pada tahun 1920-an dimulai koran ukuran tabloid oleh “The New York Daily News” yang telah memberikan suatu dimensi baru terhadap jurnalisme. Tahun1950, industri televisi mulai mengancam dominasi media cetak. Namun, sampai sekarang, koran masih bertahan. Kenyataan menunjukkan bahwa koran telah menjadi bagian dari kehidupan manusia pada umumnya. Dengan karakter khususnya ia mampu membedakan dirinya dari media lainnya seperti televisi dan radio.

Sejarah surat kabar di Indonesia

Sejarah surat kabar di Indonesia pun ada dua babak (babak pertama yang biasa disebut dengan babak putih dan babak kedua yakni antara tahun 1854 hingga kebangkitan nasional). Babak pertama atau atau Babak Putih diawali tahun 1744 saat Indonesia masih dijajah oleh Belanda,pemerintahan Gubjen. Van Imhoff. Sayang umurnya cuma dua tahun. Pada tahun 1776, di Jakarta terbit Vendu Nieus,yang memuat segala macam barang lelangan,mulai perabotan rumah tangga hingga budak. Mingguan ini berhenti terbit karena Gubjen. Daendels mengambil alih percetakan Dandels kemudian menerbitkan Bataviascche Koloniale Courant di tahun 1810 yang juga berumur pendek, karena Belanda harus menyingkir  demi negara Inggris, saat itu Inggris pun melihat begitu besar perlunya koran disana, sehingga lahir lah “Java Government Gazette”, sebagai corong pemerintah. Saat Belanda kembali berkuasa di tahun 1816 koran itu diubah menjadi “Bataviasche Courant” kemudian juga di tahun 1827-1828 diterbitkanlah “Javasche Courant” di Jakarta yang memuat berita-berita resmi pemerintahan. Mesin cetak pertama di Indonesia juga datang melalui Batavia (Jakarta) melalui seorang wartawan Belanda bernama W. Bruining yang kemudian menerbitkan surat kabar bernama Het Bataviasche Advertantie Blad yang memuat iklan-iklan dan berita-berita umum yang dikutip dari penerbitan resmi di Nederland(Staatscourant). Di Surabaya sendiri pada periode ini telah terbit Soerabajasch Advertantiebland’ yang kemudian berganti menjadi ‘Soerabajasch Niews en Advertantiebland’. Di Semarang terbit Semarangsche Advertetiebland dan De Semarangsche Courant’. Secara umum serat kabar-surat kabar yang muncul saat itu tidak mempunyai arti secara politis karena cenderung pada iklan dari segi konten. Tirasnya tidak lebih dari 1000-1200 eksemplar tiap harinya. Setiap surat kabar yang beredar harulah melalui penyaringan oleh pihak pemerintahan Gubernur Jenderal di Bogor. Tidak hanya itu, surat kabar Belanda pun terbit di daerah Sumatera dan Sulawesi. Di Padang terbit Soematra Courant’, Padang Handeslsbland dan Bentara Melajoe. Di Makasar (Ujung Pandang) terbit Celebes Courantdan Makassarsch Handelsbland. Pada masa jajahan Belanda, disebut babak putih karena surat kabar pada waktu itu masih mutlak milik orang-orang Eropa, berbahasa Belanda dan hanya diperuntukkan bagi pembaca berbahasa Belanda. Kontennya hanya seputar kehidupan orang-orang Eropa dan tidak mempunyai kaitan kehidupan pribumi. Babak ini berlangsung antara tahun 1744-1854.

Tahun 1942, Belanda menyingkir karena Jepang datang. Saat wajah penjajah berganti dan Jepang memasuki Indonesia, surat kabar-surat kabar yang beredar di Indonesia diambil alih secara pelan-pelan. Beberapa surat kabar disatukan dengan alasan penghematan namun yang sebenarnya adalah agar pemerintah Jepang memperketat pengawasan terhadat isi surat kabar. Kantor Berita Antara diambil alih dan diubah menjadi kantor berita Yashima dengan berpusat di Domei, Jepang. Konten surat kabar dimanfaatkan sebagai alat propaganda untuk memuji-muji pemerintahan Jepang. Wartawan Indonesia saat itu bekerja sebagai pegawai sedang yang mempunyai kedudukan tinggi adalah orang-orang yang sengaja didatangkan dari Jepang. Koran yang sama di ambil alih pemerintah baru yang mengubahnya menjadi “Ken Po”, yang artinya berita pemerintah.

Babak kedua yakni berawal pada tahun 1854, Dalam periode tahun ini surat kabar dengan bahasa Belanda masih memegang peranan penting dalam dunia pers Indonesia, namun surat kabar dengan bahasa Melayu telah terbit bernama Slompret Melajoe di Semarang yang diterbitkan oleh H.C. Klinkert. Lalu di Weltevreden (Gambir), Jakarta, muncul majalah Bianglala dari pihak Zanding, Mingguan bahasa Jawa Bromartani terbit pertama tahun 29 Maret 1855. entah kenapa, Van der Muelen dalam de Courant Stijhoff (Leiden 1885), menyebut prakarsa itu baru muncul  di tahun 1856, ketika terbit ‘Soerat Kabar Bahasa Melajoe (Surat Kabar Bahasa Melayu)’ di Surabaya. Sejak itu banyak terbit koran Melayu, yang masih dikelola oleh orang belanda asli atau peranakan. Pada tahun 1904, pers Indonesia mulai bangki saat raden Mas Djokomono dengan akte notaris-nya Simon mendirikan NV Javaansche Boekhandel & Drukkerik en handel in Schrijfbehoeften Medan Prijaji, di Bandung kemudian diikuti dengan terbitnya mingguan “Medan Prijaji” pada tahun 1907, yang pada tahun 1910 telah menjadi harian. Saat itu untuk pertama kali bangsa Indonesia punya koran sendiri.

Penulis mengutip dari berbagai sumber dan menjadikannya menjadi satu :

Sumber-sumber penulis :

Sejarah Jurnalistik

Sejarah Jurnalistik Dunia

Ada yang berpendapat bahwa Nabi Nuh, adalah orang pertama yang melakukan pencarian dan penyampaian berita. Media yang digunakan Nabi Nuh saat itu adalah burung dara,untuk meneliti keadaan air dan kemungkinan adanya makanan. Kemudian burung dara tersebut kembali hanya membawa ranting zaitun,Nabi Nuh mengambil kesimpulan bahwa air bah sudah mulai surut, namun seluruh permukaan bumi masih tertutup air, sehingga burung dara itu pun tidak menemukan tempat untuk istirahat. Maka kabar dan berita itu pun disampaikan Nabi Nuh kepada seluruh anggota penumpangnya. Atas dasar fakta tersebut, para ahli sejarah menamakan Nabi Nuh sebagai seorang pencari berita dan penyiar kabar (wartawan) yang pertama kali di dunia.

Sejarah jurnalistik di mulai pada masa Romawi kuno, pada masa pemerintahan Julius Caesar (100-44 SM). Seperti yang telah disebutkan di asal mula Koran, Pada waktu itu, ada acta diurna yang berisi hasil uji coba semua, peraturan baru, keputusan senat dan informasi penting lainnya yang dipasang di pusat kota yang disebut Stadion Romawi atau “Forum Romanum”.

Surat kabar pertama diterbitkan di Cina pada tahun 911, Pau Kin. Koran ini dimiliki oleh pemerintah ketika masa Kaisar Quang Soo. Tidak berbeda dalam Age of Caesar, Kin Pau mengandung berita keputusan, pertimbangan dan informasi lain dari Istana. Pindah ke Jerman, tahun 1609, penerbitan surat kabar pertama bernama Avisa Relation Order Zeitung. Pada 1618, surat kabar tertua di Belanda bernama Coyrante uytItalien en Duytschland. Surat kabar pertama di Inggris diterbitkan pada 1662 bernama Oxford Gazette (later the London) dan diterbitkan terus menerus sejak pertama kali muncul. Surat kabar pertama di Perancis, the Gazette de France, didirikan pada tahun 1632 oleh raja Theophrastus Renaudot (1.586-1.653), dengan perlindungan Louis XIII. Semua surat kabar yang terkena sensor prepublication, dan menjabat sebagai instrumen propaganda untuk monarki.

Industri surat kabar mulai menunjukkan kemajuan yang luar biasa ketika budaya membaca di masyarakat semakin meluas. Terlebih ketika memasuki masa Revolusi Industri, di mana industri surat kabar diuntungkan dengan adanya mesin cetak tenaga uap, yang bisa meningkatkan kinerja untuk memenuhi permintaan publik akan berita.

Pada pertengahan 1800-an bisnis berita mulai berkembang. Organisasi kantor berita yang berfungsi mengumpulkan berbagai berita dan tulisan didistribusikan ke berbagai penerbit surat kabar dan majalah. Pasalnya, para pengusaha surat kabar dapat lebih menghemat pengeluarannya dengan berlangganan berita kepada kantor-kantor berita itu daripada harus membayar wartawan untuk pergi atau ditempatkan di berbagai wilayah. Kantor berita yang masih beroperasi hingga hari ini antara lain Associated Press (AS), Reuters (Inggris), dan Agence-France Presse (Prancis).

Tahun 1800-an juga ditandai dengan munculnya istilah Yellow Journalism (jurnalisme kuning), sebuah istilah untuk “pertempuran headline” antara dua koran besar di Kota New York. Satu dimiliki oleh Joseph Pulitzer dan satu lagi dimiliki oleh William Randolph Hearst. Ciri khas jurnalisme kuning adalah pemberitaannya yang bombastis, sensasional, dan pemuatan judul utama yang menarik perhatian publik. Tujuannya hanya satu “meningkatkan penjualan!”.
Jurnalisme kuning tidak bertahan lama, seiring dengan munculnya kesadaran jurnalisme sebagai profesi.
Organisasi profesi wartawan pertama kali didirikan di Inggris pada 1883, yang diikuti oleh wartawan di negara-negara lain pada masa berikutnya. Kursus-kursus jurnalisme pun mulai banyak diselenggarakan di berbagai universitas, yang kemudian melahirkan konsep-konsep seperti pemberitaan yang tidak bias dan dapat dipertanggungjawabkan, sebagai standar kualitas bagi jurnalisme professional.

Sejarah Jurnalistik Indonesia

  1. Zaman pendudukan Belanda
  2. Kolonial

Pers kolonial adalah pers yang di usahakan oleh orang-orang Belanda pada masa penjajahan Belanda. Pers ini berupa surat kabar, majalah, koran berbahasa Belanda atau bahasa daerah Indonesia yang bertujuan membela kepentingan kaum kolonialis Belanda. Beberapa pejuang kemerdekaan Indonesia pun menggunakan kewartawanan sebagai alat perjuangan.

Pada tahun 1744 terbit tabloid Belanda pertama di Indonesia yaitu Batavis Novelis atau dengan namapanjangnya Bataviasche Nouvelles en Politique Raisonnementes. Sebenarnya pada tahun 1615 Gubernur Jenderal pertama VOC Jan Piterszoon Coen telah memerintahkan menerbitkan Memorie der Nouvelles . surat kabar ini berupa tulisan tangan. Tanggal 5 Januari 1810 Gubernur Jenderal Daendels menerbitkan sebuah surat kabar mingguan Bataviasche Koloniale Courant yang memuat tentang peraturan-peraturan tentang penempatan jumlah tenaga untuk tata buku, juru cetak, kepala pesuruh dan lain-lain. Setelah itu mulai bermunculan surat kabar baru dari masyarakat Indonesia itu sendiri. Seperti; Medan Priyayi (1910), Bintang Barat, Bintang Timur, dan masih banyak lagi. Medan Priyayi adalah surat kabar pertama yang dimiliki oleh masyarakat pribumi Indonesia, yang didirikan oleh Raden Jokomono atau Tirto Hadi Soewirjo. Oleh sebab itu Raden Jokomono atau Tirto Hadi Soewirjo disebut sebagai tokoh Pemrakarsa Pers Nasional, karena dia adalah orang pertama dari Indonesia yang mampu memprakarsainya dan dimodali oleh modal Nasional.

Pada tahun 1811 saat Hindia Belanda menjadi jajahan Inggris Bataviasche Koloniale Courant tidak terbit lagi. Orang Inggris menerbitkan Java Government Gazette. Surat kabar ini sudah memuat humor dan terbit antara 29 Februari 1812 sampai 13 Agustus 1814. Hal ini dikarenakan pulau Jawa dan Sumatera harus dikembalikan kepada Belanda.

Belanda kemudian menerbitkan De Bataviasche Courant dan kemudian tahun 1828 diganti dengan Javasche Courant memuat berita-berita resmi , juga berita pelelangan, kutipan dari surat kabar di Eropa. Tahun 1835 di Surabaya terbitSoerabajaasch Advertentieblad. Kemudian di Semarang pada pertengahan abad 19 terbit Semarangsche Advertentieblad dan De Semarangsche Courant dan kemudianHet Semarangsche Niuews en Advertentieblad. Surat kabar ini merupakan harian pertama yang mempunyai lampiran bahasa lain seperti Jawa, Cina dan juga Arab. Tahun 1862 untuk pertama kali dibuka jalan kereta api oleh Pemerintah Hindia Belanda maka untuk menghormati hal tersebut Het Semarangsche Niuews en Advertentieblad berganti nama menjadi de Locomotief.

Setelah itu mulai bermunculan surat kabar baru dari masyarakat Indonesia itu sendiri. Seperti; Medan Priyayi (1910), Bintang Barat, Bintang Timur, dan masih banyak lagi. Medan Priyayi adalah surat kabar pertama yang dimiliki oleh masyarakat pribumi Indonesia, yang didirikan oleh Raden Jokomono atau Tirto Hadi Soewirjo. Oleh sebab itu Raden Jokomono atau Tirto Hadi Soewirjo disebut sebagai tokoh Pemrakarsa Pers Nasional, karena dia adalah orang pertama dari Indonesia yang mampu memprakarsainya dan dimodali oleh modal Nasional.

  1. Pers Masa Pergerakan

Masa pergerakan adalah masa bangsa Indonesia berada di bawah penjajahan Belanda sampai saat masuknya Jepang menggantikan Belanda. Pers nasional adalah pers yang di usahakan oleh orang-orang Indonesia terutama orang-orang pergerakan dan di peruntukan bagi orang Indonesia. Setelah munculnya pergerakan modern Budi Utomo tanggal 20 Mei 1908, Surat kabar yang di keluarkan orang Indonesia lebih banyak berfungsi sebagai alat perjuangan. Pers menyuarakan kepedihan,penderitaan,dan merupakan refleksi isi hati bangsa terjajah. Pers menjadi pendorong bangsa Indonesia dalam perjuangan memperbaiki nasib dan kedudukan bangsa.

  1. Zaman Penjajahan Jepang

      Jepang mengambil alih kekuasaan, koran-koran dilarang. Akan tetapi pada akhirnya ada lima media yang mendapat izin terbit: Asia Raja, Tjahaja,Sinar Baru, Sinar Matahari, dan Suara Asia.

      Beberapa keuntungan yang di dapat oleh para wartawan di Indonesia yang bekerja pada penerbitan Jepang,antara lain sebagai berikut :

  • Pengalaman yang di peroleh para karyawan pers Indonesia bertambah.Fasilitas dan alat-alat yang di gunakan jauh lebih banyak dari pada masa pers zaman Belanda.
  • Penggunaan bahasa Indonesia dalam pemberitaan makin sering dan luas.
  • Pengajaran untuk rakyat agar berfikir kritis terhadap berita yang di sajikan oleh sumber-sumber resmi Jepang.Selain itu,kekejaman dan penderitaan yang di alami pada masa pendudukan Jepang memudahkan para pemimpin bangsa memberikan semangat untuk melawan penjajahan.

Revolusi Fisik (Pendudukan Belanda)

Pada masa revolusi fisik ini, pers terbagi menjadi dua golongan,yaitu sebagai berikut :

  • Pers yang di terbitkan dan di usahakan oleh tentara pendudukan Sekutu dan Belanda yang selanjutnya di namakan pers Nica ( Belanda ).
  • Pers yang di terbitkan dan di usahakan oleh orang Indonesia yang di sebut pers republik.

Pers republik disuarakan oleh masyarakat Indonesia yang berisi semangat mempertahankan kemerdekaan dan menentang usaha pendudukan Sekutu. Pers ini benar-benar menjadi alat perjuangan masa itu. Sebaliknya, pers Nica berusaha memengaruhi rakyat Indonesia agar menerima kembali Belanda untuk berkuasa di Indonesia.

  1. Orde lama

Pers pada masa Orde lama digunakan untuk mengkritisi pemimpin.Dewan Pers pertama kali terbentuk pada tahun 1966 melalui Undang-undang No.11 Tahun 1966 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pers. Fungsi dari Dewan Pers saat itu adalah sebagai pendamping Pemerintah serta bersama-sama membina perkembangan juga pertumbuhan pers di tingkat nasional. Saat itu, Menteri Penerangan secara ex-officio menjabat sebagai Ketua Dewan Pers.

  1. Orde baru

Pada era orde baru, kedudukan dan fungsi Dewan Pers tidak berubah yaitu masih menjadi penasihat pemerintah, terutama untuk Departemen Penerangan. Hal ini didasari pada Undang-Undang No. 21 Tahun 1982 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1966 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pers. Tetapi terjadi perubahan perihal keterwakilan dalam unsur keanggotaan Dewan Pers seperti yang dinyatakan pada Pasal 6 ayat (2) UU No. 21 Tahun 1982 Tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pers Sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang No. 4 Tahun 1967 :

“Anggota Dewan Pers terdiri dari wakil organisasi pers, wakil Pemerintah dan wakil masyarakat dalam hal ini ahli-ahli di bidang pers serta ahli-ahli di bidang lain.”

Pada masa ini, khususnya ketika Ali Murtopo menjadi Menteri Penerangan (1977-1982), Departemen Penerangan difungsikan sebagai sebuah “departemen politik” bersama Departemen Dalam Negeri. Artinya, ia mempunyai fungsi pembinaan politik. Departemen ini berada di garda terdepan dalam setiap kampanye pemilu. Fungsi ini semakin kental terasa tatkala Harmoko menjadi Menteri Penerangan (1982-1997), dan selama tiga periode berturut-turut Harmoko merangkap menjadi Ketua Umum Golkar (1987-1998) dan Ketua Umum MPR (Maret 1998 -November 1998). Ini adalah jabatan dan kedudukan yang sangat stra­tegis. Dalam struktur kekuasaan seperti itu, Departemen Penerangan menjadi lembaga penjaga gerbang informasi yang sangat efektif bagi kepentingan pemerintah. Departemen Penerangan (melalui Direktorat Bina Wartawan Dirjen PPG) mempunyai kewenangan untuk mencegah tangkal visa bagi wartawan maupun koresponden luar negeri serta mem­punyai kewenangan untuk mencegah tangkal tayangan siaran langsung televisi dari dan ke luar negeri. Karena itu, Departemen Penerangan juga mempunyai wewenang dalam pengaturan agenda informasi dari dan ke luar negeri. (Hidayat, dkk, 2000:225)

  1. Reformasi

Disahkannya Undang-undang No. 40 Tahun 1999 tentang Pers membuat berubahnya Dewan Pers menjadi Dewan Pers yang Independen, dapat dilihat dari Pasal 15 ayat (1) UU Pers menyatakan :

Dalam upaya mengembangkan kemerdekaan pers dan meningkatkan kehidupan pers nasional, dibentuk Dewan Pers yang independen

Fungsi Dewan Pers juga berubah, yang dahulu sebagai penasihat Pemerintah sekarang telah menjadi pelindung kemerdekaan pers.

Tidak ada lagi hubungan secara struktural dengan Pemerintah. Dihapuskannya Departemen Penerangan pada masa Presiden Abdurrahman Wahid menjadi bukti. Dalam keanggotaan, tidak ada lagi wakil dari Pemerintah dalam Dewan Pers. Tidak ada pula campur tangan Pemerintah dalam institusi dan keanggotaan, meskipun harus keanggotaan harus ditetapkan melalui Keputusan Presiden. Untuk Ketua dan Wakil Ketua Dewan Pers, dipilih melalui mekanisme rapat pleno (diputuskan oleh anggota) dan tidak dicantumkan dalam Keputusan Presiden. Pemilihan anggota Dewan Pers independen awalnya diatur oleh Dewan Pers lama.Atang Ruswati menjabat sebagai Ketua Badan Pekerja Dewan Pers, sebuah badan bentukan Dewan Pers sebelum dilakukannya pemilihan anggota. Badan Pekerja Dewan Pers kemudian melakukan pertemuan dengan berbagai macam organisasi pers juga perusahaan media. Pertemuan tersebut mencapai sebuah kesepakatan bahwa setiap organisasi wartawan akan memilih dan juga mencalonkan dua orang dari unsur wartawan serta dua dari masyarakat. Setiap perusahaan media juga berhak untuk memilih serta mencalonkan dua orang yang berasal dari unsur pimpinan perusahaan media juga dua dari unsur masyarakat. Ketua Dewan Pers independen yang pertama kali adalah Atmakusumah Astraatmadja.

Sumber :

Sumber pertama : http://ratnanism.blogspot.com/2012/12/sejarah-jurnalistik-di-dunia-dan-di.html

Sumber kedua : http://wahyusafitrii.blogspot.com/2012/10/pengertian-dan-sejarah-jurnalistik.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s