[Meeting 1] Kewirausahaan

Nama : Sarah Aisyah

Kelas : 2SA01

NPM : 16612834

1.   Pengertian Kewirausahaan

Kewirausahaan berasal dari dua kata yaitu Wira dan Usaha. Wira berarti pejuang, pahlawan, manusia unggul, teladan, berbudi luhur, gagah berani dan berwatak agung,Usaha adalah perbuatan amal, bekerja, dan berbuat sesuatu. Jadi wirausaha adalah pejuang atau pahlawan yang berbuat sesuatu. Istilah entrepreneur pertama kali diperkenalkan pada awal abad ke-18 oleh ahli ekonom Perancis, Richard Cantillon. Menurutnya, entrepreneur adalah “agent who buys means of production at certain prices in order to combine them”. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, ekonom Perancis lainnya- Jean Baptista Say menambahkan definisi Cantillon dengan konsep entrepreneur sebagai pemimpin. Say menyatakan bahwa entrepreneur adalah seseorang yang membawa orang lain bersama-sama untuk membangun sebuah organ produktif.

2.    A.) Ruang Lingkup Kewirausahaan

Ruang lingkup kewirausahaan sangat luas sekali. Secara umum, ruang lingkup kewirausahaan adalah bergerak dalam bisnis. Jika diuraikan secara rinci ruang lingkup kewirausahaan, bergerak dalam bidang:

 1.  Lapangan agraris

  • Pertanian
  • Perkebunan dan kehutanan

2.  Lapangan perikanan

  • Pemeliharaan ikan
  • Penetasan ikan
  • Makanan ikan
  • Pengangkutan ikan

3.  Lapangan peternakan

  • Bangsa burung atau unggas
  • Bangsa binatang menyusui

4.  Lapangan perindustrian dan kerajinan

  • Industri besar
  • Industri menengah
  • Industri kecil
  • Pengrajin

5.  Lapangan perkebunan

6.  Lapangan pertambangan dan energi

7.  Lapangan perdagangan

8.  Lapangan pemberi jasa

B.) Proses terbentuknya kewirausahaan

Munculnya para entrepreneur baik dalam masa krisis maupun dalam masa kondisi ekonomi sedanga membaik, telah banyak menarik perhatian para pakar untuk melakukan berbagai penelitian. Para pakar ini tidak saja dari disiplin ilmu ekonomi, namun juga dari disiplin ilmu psikologi, sosiologi, manajemen dan lainnya. Dalam teori ekonomi, studi kewirausahaan ditekankan kepada identifikasi [eluang yang terdapat pada pasar  serta membahas fungsi inovasi dari entrepreneur dalam menciptakan kombinasi sumberdaya ekonomis untuk menghasilkan suatu produk. Dalam bidang ilmu psikologi mislnya, studi kewirausahaan lebih menekankan pada penelitian karakteristik kepribadian wirausaha, sedangkan dalam ilmu sosiologi penelitian ditekankan pada pengaruh lingkungan sosial budaya dalam pembentukan masyarakat wirausaha.

3.     Disiplin Ilmu Kewirausahaan dan Perkembangannya

Dalam teori ekonomi, studi mengenai kewirausahaan ditekankan pada identifikasi peluang yang terdapat pada peranserta membahas fungsi inovasi dari wirausaha dalam menciptakan kombinasi sumber daya ekonomis sehingga memengaruhi ekonomi agregat.Studi kewirausahaan kemudian berkembang dalam disiplin ilmu lain yang penekanannya pada sang wirausaha sendiri. Dalam bidang ilmu psikologi, misalnya studi kewirausahaan meneliti karakteristik kepribadian wirausaha, sedangkan pada ilmu sosiologi penelitian ditekankan pada pengaruh dari lingkungan sosial dan kebudayaan dalam pembentukan masyarakat wirausaha. Ray dan Ranachandran (1996) menandaskan, walau terdapat perbedaan sudut pandang, penelitian yang dilakukan baik oleh ahli ekonomi, psikologi, dan sosiologi harus tetap bepijak pada kegiatan kewirausahaan serta sebab akibatnya pada tingkat mikro dan makro. Dengan demikian adalah wajar jika studi kewirausahaan dengan penekanan keilmuan yang berbeda itu pada akhirnya akan saling berhubungan dan memengaruhi.

  1. Sementara itu fenomena kewirausahaan ini masih terus diteliti dan belum terdapat satu pengertian baku yang dianut oleh semua ahli (Shapero, 1982). Ini menunjukkan perkembangan teori ini masih dalam perjalanan panjang serta dari adanya perubahanperubahan ekonomi dunia diharapkan memberi banyak masukan bagi peneliti.
  2. Muculnya banyak wirausaha atau pebisnis, telah menarik perhatian para pakar untuk meneliti bagaimana mereka terbantuk. Bagian ini menjelaskan teori-teori mengenai proses pembentukan wirausaha. Teori tersebut antara lain: life path change, goal directed behavior, teori outcome expectancy. Terakhir, terdapat acuan komprehensif mengenai teori pembetukan wirausaha yang dipadukan oleh teori-teori sebelumnya. Begitu banyak teori yang telah mengupas persoalan ini, intinya bahwa menjadi wirausaha adalah sebuah proses

4.     Kewirausahaan dari berbagai sudut pandang relatif

Kewirausahaan dari berbagai sudut pandang relatif berbeda-beda antar para ahli/sumber acuan dengan titik berat perhatian atau penekanan yang berbeda-beda, diantaranya adalah penciptaan organisasi baru (Gartner, 1988), menjalankan kombinasi (kegiatan) yang baru (Schumpeter, 1934), ekplorasi berbagai peluang (Kirzner, 1973), menghadapi ketidakpastian (Knight, 1921), dan mendapatkan secara bersama faktor-faktor produksi (Say, 1803). Beberapa definisi tentang kewirausahaan tersebut diantaranya adalah sebagai berikut:

Jean Baptista Say (1816): Seorang wirausahawan adalah agen yang menyatukan berbagai alat-alat produksi dan menemukan nilai dari produksinya.

Frank Knight (1921): Wirausahawan mencoba untuk memprediksi dan menyikapi perubahan pasar. Definisi ini menekankan pada peranan wirausahawan dalam menghadapi ketidakpastian pada dinamika pasar. Seorang worausahawan disyaratkan untuk melaksanakan fungsi-fungsi manajerial mendasar seperti pengarahan dan pengawasan.

Joseph Schumpeter (1934): Wirausahawan adalah seorang inovator yang mengimplementasikan perubahan-perubahan di dalam pasar melalui kombinasi-kombinasi baru. Kombinasi baru tersebut bisa dalam bentuk (1) memperkenalkan produk baru atau dengan kualitas baru, (2) memperkenalkan metoda produksi baru, (3) membuka pasar yang baru (new market), (4) Memperoleh sumber pasokan baru dari bahan atau komponen baru, atau (5) menjalankan organisasi baru pada suatu industri. Schumpeter mengkaitkan wirausaha dengan konsep inovasi yang diterapkan dalam konteks bisnis serta mengkaitkannya dengan kombinasi sumber daya.

Penrose (1963): Kegiatan kewirausahaan mencakup indentifikasi peluang-peluang di dalam sistem ekonomi. Kapasitas atau kemampuan manajerial berbeda dengan kapasitas kewirausahaan.

Harvey Leibenstein (1968, 1979): Kewirausahaan mencakup kegiatan-kegiatann yang dibutuhkan untuk menciptakan atau melaksanakan perusahaan pada saat semua pasar belum terbentuk atau belum teridentifikasi dengan jelas, atau komponen fungsi produksinya belum diketahui sepenuhnya.

Israel Kirzner (1979): Wirausahawan mengenali dan bertindak terhadap peluang pasar. Entrepreneurship Center at Miami University of Ohio: Kewirausahaan sebagai proses mengidentifikasi, mengembangkaan, dan membawa visi ke dalam kehidupan. Visi tersebut bisa berupa ide inovatif, peluang, cara yang lebih baik dalam menjalankan sesuatu. Hasila akhir dari proses tersebut adalah penciptaan usaha baru yang dibentuk pada kondisi resiko atau ketidakpastian. Salah satu kesimpulan yang bisa ditarik dari berbagai pengertian tersebut adalah bahwa kewirausahaan dipandang sebagai fungsi yang mencakup eksploitasi peluang-peluang yang muncul di pasar. Eksploitasi tersebut sebagian besar berhubungan dengan pengarahan dan atau kombinasi input yang produktif. Seorang wirausahawan selalu diharuskan menghadapi resiko atau peluang yang muncul, serta sering dikaitkan dengan tindakan yang kreatif dan innovatif. Selain itu, seorang wirausahawan menjalankan peranan manajerial dalam kegiatannya, tetapi manajemen rutin pada operasi yang sedang berjalan tidak digolongkan sebagai kewirausahaan. Seorang individu mungkin menunjukkan fungsi kewirausahaan ketika membentuk sebuah organisasi, tetapi selanjutnya menjalankan fungsi manajerial tanpa menjalankan fungsi kewirausahaannya. Jadi kewirausahaan bisa bersifat sementara atau kondisional.

5.     Beberapa teori yang berusaha menerangkan proses terbentuknya wirausaha diantaranya:

  1. Teori Life Path Change

Tidak semua entrepreneur lahir dan berkembang mengikuti jalur yang sistematis dan terencana dengan baik. Banyak entrepreneur lahir tidak mengikuti proses yang direncanakan. Hal ini karena disebabkan beberapa hal:

a. Negative displacement

Seseorang bisa saja menjadi entrepreneur karena dia berada pada tempat yang tidak kondusif. Misalnya saja karena tertekan, merasa terhina, mengalami kebosanan selama bekerja, dipaksa ataupun terpaksa pindah dari daerah asal. Kondisi inilah yang membuat seseorang terpaksa harus keluar dari kebiasaan rutin yang dia sendiri tidak merasa nyaman dengan kondisi itu. Sementara di sisi lain upaya untuk menjaga kelangsungan hidup diri dan keluarga harus dipertahankan. Oleh karenanya menjadi entrepreneur dalam situasi seperti ini adalah pilihan terbaik bagi dirinya.

b. Being between things

Ada orang yang merasa berada pada dua dunia yang  berbeda (being between things). Orang-orang yang baru keluar dari ketentaraan, orang yang baru keluar dari penjara, sering kali mereka merasa berada pada dua dunia yang berbeda. Apapun perasaannya, yang pasti mereka tetap harus berjuang menjaga kelangsungan hidupnya. Dan biasanya beranjak darisinilah pilihan harus dibuat. Pilihan menjadi entrepreneur muncul karena menjadi entrepreneur mereka dapat bekerja dengan mengandalkan diri mereka sendiri.

c. Having positif pull

Seseorang dapat menjadi entrepreneur karena mendapat dukungan positif dari mitra kerja, investor, pelanggan, maupun relasi lain. Dukungan positif ini akan memudahkan mereka mengantisipasi peluang usaha. Slain itu dukungan positif juga akan menciptakan rasa aman dari berbagai resiko yang akan dihadapi dikemudian hari.

2. Teori Goal Direct Behavior

Teori ini menggambarkan bahwa seseorang menjadi entrepreneur untuk mencapai tujuan tertentu. Tujuannya tidak lain adalah memperbaiki kelangsungan hidup dirinya dan keluarganya. Untuk mencapai tujuan tersebut, seseorang termotivasi dan mengarahkan tingkah lakunya secara persisten untuk mencapai tujuan. Diawali dengan adanya dorongan need, kemudian goal direct behavior, hingga tercapainya tujuan. Dorongan need (kebutuhan) muncul dari berbagai macam mulai dari kebutuhan dasar sampai kepada kebutuhan untuk berprestasi. Bisa juga dorongan need ini muncul dari adanya defisit dan ketidakseimbangan tertentu pada diri individu yang bersangkutan (entrepreneur).

3. Teori Outcome Expectacy

Outcome expectacy bukan suatu perilaku tetapi keyakinan tentang konsekuensi yang diterima setelah seseorang melakukan suatu tindakan tertentu. Dari pengertian di atas Outcome expectacy dapat diartikan sebagai keyakinan seseorang mengenai hasil yang akan diperoleh jika ia melaksanakan suatu perilaku tertentu, yaitu perilaku yang menunjukkan keberhasilan.

Jenis Outcome Expectacy

a. Insentif Primer

Merupakan imbalan yang berhubungan dengan kebutuhan fisiologis seperti makan, minum, dan kontak fisik lainnya.

b. Insentif Sensoris

Beberapa kegiatan manusia ditujukan untuk memperolah umpan balik sensoris yang terdapat di lingkungannya.

c. Insentif Sosial

Manusia melakukan sesuatu untuk mendapatkan penghargaan dan penerimaan dari lingkungan sosialnya. Penerimaan atau penolakan dari sebuah lingkungan sosial akan lebih berfungsi secara efektif sebagai imbalan atau hukuman dari pada reaksi yang berasal dari satu individu.

d. Insentif yang berupa token ekonomi

Token ekonomi adalah imbalan yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan ekonomi seperti upah, kenaikan pangkat, penambahan tunjangan dan lainnya.

e. Insentif status dan pengaruh

Pada sebagian besar masyarakat, kedudukan individu seringkali dikaitkan dengan status kekuasaan. Kekuasaan yang dimiliki individu dalam lingkungan sosialnya memberikan kesmpatan kepadanya untuk mengontrol perilaku orang lain baik melalui simbol atau secara nyata.

f. Insentif standar internal

Insentif ini berasal dari tingkat kepuasan diri yang diperoleh individu dari pekerjaannya. Insentif bukan berasal dari luar diri, tetapi berasal dari dalam diri seseorang. Reaksi diri yang berupa rasa puas dan senang merupakan salah satu bentuk imbalan internal yang ingin diperoleh seseorang dari pekerjaannya.

6.    Tujuan terbentuknya kewirausahaan

  1.  Membentuk tenaga muda yang memiliki semangat dan jiwa sukarela dan pengabdian dalam pembangunan masyarakat.

  2. Memberikan bekal pengetahuan dan ketrampilan kewirausahaan untuk menciptakan kader wirausahawan yang potensial, mandiri, produktif, dan beretos kerja tinggi bagi angkatan kerja muda terdidik lulusan S1 / S2.

  3. Menumbuhkan kesadaran dan dorongan akan arti penting dan tanggung jawab serta keterlibatan pemuda dalam proses pembangunan.

  4. Ikut mengembangkan unit-unit usaha produktif dalam rangka penciptaan kesempatan kerja yang lebih luas lagi.

7.    Peran Pendidikan dalam Pembentukan Wirausaha

Pendidikan Kewirausahaan dilaksanakan dengan menanamkan nilai-nilai kewirausahaan kepada peserta didik, nilai-nilai tersebut antara lain jujur, percaya diri, kreatif, kepemimpinan, inovatif, dan berani menanggung resiko. Nilai-nilai tersebut merupakan bagian dari nilai-nilai pendidikan karakter.Sehingga pendidikan kewirausahaan menyumbangkan penanaman nilai-nilai pendidikan karakter yang pada akhirnya akan membentuk karakter bangsa, sesuai dengan tujuan dari pendidikan kewirausahaan yaitu untuk membentuk manusia secara utuh (holistik), sebagai insan yang memiliki karakter, pemahaman dan ketrampilan sebagai wirausaha.

Penanaman nilai-nilai kewirausahaan melalui pendidikan kewirausahaan di semua jenjang pendidikan akan membentuk karakter wirausaha peserta didik, dan karena diimplementasikan mulai dari jenjang pendidikan terendah (PAUD) hingga tertinggi (Perguruan Tinggi) maka nilai-nilai kewirausahaan (yang termasuk nilai-nilai karakter) tersebut akan melekat kuat di benak dan hati peserta didik dan pada akhirnya peserta didik tersebut (sebagai generasi penerus bangsa) akan memiliki nilai-nilai karakter yang kuat dan pada akhirnya akan membentuk karakter bangsa.

Meskipun seorang wirausaha belajar dari lingkungannya dalam memahami dunia wirausaha, namn ada pendapat yang mengatakan bahwa seorang wirausaha lebih memiliki streetsmart dari pada booksmart, maksudnya adalah seorang wirausaha lebih mengutamakan untuk belajar dari pengalaman (streetsmart)dibandingkan dengan belajar dari buku dan pendidikan formal (booksmart). Pandangan ini masih perlu dibuktikan kebenarannya. Jika pendapat tersebut benar maka secara tidak langsung usaha-usaha yang dilakukan untuk mendorong lahirnya jiwa kewirausahaan leat jalur pendidikan formal pada akhirnya sukar untuk berhasil.
Seorang wirausaha yang memiliki potensi sukses adalah mereka yang mengerti kegunaan pendidikan untuk menunjang kegiatan seta mau belajar untuk meningkatkan pengetahuan. Lingkungan pendidikan dimanfaatkan oleh wirausaha sebagai sarana untuk mencapai tujuan, pendidikan disini berarti pemahaman suatu masalah yang dilihat dari sudut keilmuan atau teori sebagai landasan berpikir.

8.    Faktor-faktor pemicu kewirausahaan

  1. Faktor internal adalah:
    1.hak kepemilikan (property right) 2.kemampuan/ kompetensi (competency/ability) 3.insentif(Competency incentives)

  2. Faktor eksternalnya adalah lingkungan:
    Menurut Ibnoe Soedjono kemampuan kewirausahaan merupakan fungsi dari perilaku kewirausahaan dalam mengkombinasikan kreativitas, inovasi, kerja keras dan keberanian menghadapi risiko untuk memperoleh peluang

Sumber       :

http://adesyams.blogspot.com/2009/09/ruang-lingkup-dan-proses-terbentuknya.html

http://elissanindia.wordpress.com/2012/04/12/ruang-lingkup-proses-terbentuknya-kewirausahaan/

http://yelinasartika.wordpress.com/2013/05/30/peran-pendidikan-dalam-kewirausahaan/

http://id.wikipedia.org/wiki/Kewirausahaan

One thought on “[Meeting 1] Kewirausahaan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s